Pagi mulai membuka mata seperti biasanya. Dimulai dengan munculnya fajar memerah sayu. Nampak bayang-bayang gunung yang terlihat mungil namun menakjubkan. Burung mulai memamerkan cuitan merdunya. Angin mulai mengibaskan udara sejuknya diiringi semilir belaiannya yang lembut.
Rutinitas pagi nampak dikerjakan oleh semua orang. Mulai dari yang bersiap menjajakkan kakinya ke sawah, sampai yang menapakkan kaki bersepatunya ke sekolah. Salah satunya adalah Ningsih. Ningsih adalah gadis desa yang lugu nan sederhana yang duduk dibangku Sekolah Menengah Atas di sebuah kabupaten kecil.
Ningsih pergi ke sekolah dengan mengendarai sepeda jengki berwarna biru. Dengan penuh rasa senang dan semangat ia mengayuh sepedanya menuju sekolah yang berjarak beberapa kilometer dari tempat tinggalnya. Di tempat boncengan sepeda jengkinya terletak sebuah keranjang kecil berisi kue-kue.
Ya... Ningsih ini adalah seorang siswi yang menyambi berjualan kue. Ia menjajakan kue dagangannya kepada teman dan guru-gurunya di sekolah. Ia menitipkan barang dagangannya di kantin sekolah. Kue-kue ini adalah asli buatan tangan ibunya yang dibuat dengan penuh keikhlasan.
Ningsih termasuk siswi yang rajin datang awal ke sekolah. Sesampainya di sekolah ia langsung berjalan menyusuri lorong bangunan sekolah yang cukup luas menuju kelasnya. Ia meletakkan tasnya di bangkunya paling depan. Setelah itu ia pergi membawa barang dagangannya menuju kantin. Di sana sudah berdiri seorang wanita yang tengah merapikan meja-meja kantin. Wanita itu bernama Mbok Nem. Mbok Nem adalah orang yang menjaga sekaligus penjual menu-menu jajanan di kantin.
"Selamat pagi Mbok Nem.." sapa Ningsih sambil tersenyum manis. "Pagi nduk.." balas Mbok Nem sambil merapikan meja. "Oalah nduk cah ayu to.." Mbok Nem baru tersadar kalau yang datang menyapanya adalah Ningsih. "Injih Mbok" jawab Ningsih. "Niki Mbok kue yang mau saya titipkan" kata Ningsih sambil menyodorkan keranjang kue dagangannya. "Oh, iyo nduk gowo rene" jawab Mbok Nem sambil menghitung jumlah kue yang dititipkan Ningsih hari itu.
"Lho kok cuma iki nduk? Ora koyok biasa e?" tanya Mbok Nem kepada Ningsih. Dengan raut wajah yang nampak menahan rasa sedih, Ningsih menjawab pertanyaan Mbok Nem dengan senyum "Injih Mbok, soalnya hari ini ibu kurang enak badan, jadi bikin kuenya tidak banyak". "Oh, yowis ora opo-opo nduk, mugo-mugo ibumu ndang sehat maneh yo.." balas Mbok Nem. "Injih Mbok" jawab Ningsih.
Setelah menitipkan dagangannya di kantin, Ningsih kembali ke kelasnya. Sesampainya di kelas, ia melihat sekeliling ruang kelas yang masih sepi. Belum ada teman-teman lain yang sampai di sekolah. Atau mereka sebenarnya sudah sampai di sekolah, namun masih enggan masuk ke kelas. Ningsih pun segera menuju bangku tempat ia duduk untuk mengemban ilmu. Di sana ia mengeluarkan sebuah buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Dengan khitmat ia membaca buku itu.
Ya... Ningsih bercita-cita menjadi seorang ahli ilmu tumbuh-tumbuhan. Menurutnya tumbuh-tumbuhan memiliki banyak manfaat yang beragam. Ia berharap suatu saat nanti bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dan memanfaatkan ilmu pengetahuannya untuk orang banyak. Meskipun saat ini ia harus berjuang membantu ibunya untuk mencari tambahan biaya sekolah dengan berjualan kue yang dititipkan di kantin sekolah. Pernah terbesit di dalam hatinya rasa malu dan enggan berjualan. Namun ia berpikir kembali bahwa sebagai seorang anak, ia wajib berbakti kepada ibunya yang telah sabar merawatnya dari kecil hingga saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar