Kamis, 28 Februari 2019

Kisah Awal bagian 2

Hallo konco-konco,

Setelah beberapa hari, akhirnya aku mulai berbagi kisah lagi kepada kalian yeeeeee.. Ditulisanku kali ini, aku akan melanjutkan kisah dari perjalanan hidupku. Di kisah awal yang sebelumnya aku bercerita tentang dari mana aku berasal dan mulai melangkahkan kakiku kemana. Nah di kisah awal bagian 2 ini aku akan berbagi tentang awal aku menjalani yang disebut dunia yang sebenarnya. Emang slama ini aku di dunia yang mana?? hehehe
Jadi di tahun 2016 aku memberanikan diri untuk melangkahkan kakiku keluar dari zona nyaman. Aku memutuskan untuk pergi merantau ke pulau Kalimantan tepatnya di kota Tarakan provinsi Kalimantan Utara. 

Awalnya aku ragu-ragu untuk pergi ke sana. Karena aku belum pernah pergi jauh meninggalkan orang tua dan keluarga yang membutuhkan banyak waktu dan biaya tentunya. Tapi karena dorongan oleh orang tua yang menginginkan anaknya bisa berhasil (dalam memiliki profesi) dan karena aku juga ingin mendapatkan pengalaman baru di luar sana. Akhirnya aku memacu tekadku untuk berani pergi merantau demi tercapainya keinginan itu. Berbicara masalah merantau, banyak sekali quotes tentang merantau yang bisa menjadi penguat kita sebagai perantau. Salah satu quotes yang aku ambil adalah dari Imam Asy Syafi'i: "Merantaulah... Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negrimu dan hidup asing (di negri orang)".


Pertama kali aku sampai di tanah rantau, sangat terasa asing bagiku. Cuaca dan hawa-hawane bedo. Tidak sama dengan di kampung halaman. Saat itulah aku langsung merasa rindu rumah. Karena, begitu aku di tanah rantau aku tidak akan bisa langsung pulang dengan mudah. Dan aku tidak mungkin cuma sebentar saat di tanah rantau. Pasti butuh waktu lama bagiku untuk bisa bersua kembali dengan keluarga di kampung halaman huuuuu huuuuu (macam menangis di dalam hati).

Tetapi di saat aku rindu akan rumah, dan ingin pulang, aku selalu mengingat kembali tujuan awal aku pergi merantau. Dengan begitu, aku semakin kuat untuk menahan setiap rindu yang menderu, menahan tangis yang mengiris. Kuluapkan rindu dan tangis itu dalam barisan doa kepada-Nya agar kami selalu terjaga dan bisa berkumpul bersama kembali berbagi bahagia dan kesedihan, berbagi tawa dan tangis.

Begitulah kisah awal bagian 2 yang bagi kepada konco-konco. Insyaalah kisah awal bagian 3 akan segera dirilis. Terus semangat buat konco-konco yang mungkin saat ini sedang merantau demi menggapai kebaikan..

Thanks to Tarakan sebagai titik awal aku berdiri...

Jumat, 22 Februari 2019

Satu untuk Berdua

Hallo konco-konco,

Pernah dengar istilah "sepiring berdua"?
Yaps, istilah itu sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pasti istilah itu terdengar romantis ya... tapi kalo untuk dikisahku ini bukanlah sesuatu yang romantis, lebih tepatnya agak miris hiks hiks..
Jadi begini kisahnya, ini berhubungan dengan makanan dan minuman yang pasti.

Kalian tahu telur yang diceplok? Atau istilahnya telur mata sapi? Iya... yang kayak gini


Jadi kisah si telur ceplok ini adalah dulu waktu jaman aku masih sekolah SD, setiap pagi sebelum sekolah ibu selalu membuatkan aku sarapan. Karena kami tinggal di pedesaan, menu sarapan pun tidak jauh dari nasi dan sambal. Nah, karena aku punya seorang kakak laki-laki yang jarak usia kami cuma terpaut 2,5 tahun, maka saat itu pun kami sama-sama duduk di bangku SD. Ketika kami sarapan ibu biasa membuatkan lauk telur ceplok. Itu pun jika bertepatan ayam yang kami pelihara telah bertelur. Jika tidak ya lauknya tempe goreng dan sambal. Nah disaat ibu membuatkan kami lauk telur ceplok, itu pasti cuma 1 biji saja yang di goreng dan pasti dibagi menjadi dua. Separo untuk kakak dan separo untukku 😣
Apalagi telurnya itu telur ayam kampung, kebayang dong kecilnya telur itu seberapa? Dan itu masih dibagi menjadi dua 😢
Tapi kami tidak pernah ngeluh, ngambek, apalagi sampe marah tidak mau makan hanya karena kami harus berbagi lauk. Karena bagi kami, bisa sarapan lauk telur itu adalah nikmat Tuhan yang sangat luar biasa. Karena tidak setiap hari kami bisa makan lauk itu. Dan yang terpenting kebutuhan protein kami tercukupi dan kami bisa belajar dengan baik di sekolah.. horeeee...

Selain telur ceplok, ada lagi satu menu yang harus kami bagi berdua. Yaitu... jeng jeng 
Yaps betul, ini adalah susu coklat. Siapa yang doyan sama susu coklat??? 
Dulu waktu aku masih SD suka banget minum susu coklat. Karena susu itu mengandung kalsium yang bagus untuk pertumbuhan tulang. Meskipun kami orang desa, tapi orang tua kami sangat memperhatikan tumbuh kembang putra-putrinya. Nah jadi si susu coklat ini nasibnya sama seperti si telur ceplok. Ia harus rela dibagi dua untuk kakak dan aku 😅 kasiaaan si susu coklat.

Mungkin kalian bertanya-tanya "kenapa sih semua harus dibagi dua?" "memangnya orang tua kalian pelit banget ya?"
Jawabannya bukan karena orang tua kami pelit. Tapi pada masa itu perekonomian orang tua kami masih belum stabil. Jadi kami harus berlatih hidup sederhana dan menerima apa yang ada. Tapi pada masa itu kakak dan aku belum terlalu mengerti masalah ekonomi. Yang kami tahu adalah kami harus sekolah, belajar dan terus belajar supaya nanti kami bisa menjadi orang yang berilmu dan bisa meraih keberhasilan di masa depan.

Aku bersyukur dilahirkan di lingkungan keluarga yang sederhana. Karena itu bisa membuatku lebih menghargai yang namanya perjuangan, kesederhanaan, dan indahnya berbagi. Sehingga di saat aku harus belajar mandiri, aku sudah siap.


Kesederhanaan bukanlah sebuah keturunan. Tapi kesederhanaan adalah sesuatu yang harus kita cari dan kita pupuk sendiri, supaya ia bisa tumbuh kokoh didalam diri kita.

Semangat buat konco-konco 💪😉

Kamis, 21 Februari 2019

Kisah Awal

Hallo konco-konco,

Ini kisah pertama yang mau aku bagikan ke kalian. Mungkin ini kisah awal dari sebuah perjalanan. Katanya hidup itu sebuah perjalanan. Berarti seumur hidup, kita itu akan selalu melakukan perjalanan. Nah perjalanan itu kalo menurut aku bukan hanya jalan kaki ya.. tapi perjalanan itu adalah dimana kita akan mengalami perpindahan baik secara fisik maupun psikis. Kalo perjalanan secara fisik berarti itu berpindah tempat, ataupun lokasi tempat tinggal. Tapi kalo perjalanan psikis itu berarti yang berpindah adalah sesuatu yang ada di dalam diri kita. Bisa qolbu atau pola pikir kita.

Oke, kita kembali ke topik awal. Aku mau cerita aja kalo aku itu adalah wong Jowo alias orang Jawa tulen. Bukan blasteran dari Amerika, Inggris, Jerman, Perancis, Korea, dan masih banyak negara lain. Kita ke profil dulu sedikit ya... jadi orang tuaku itu keduanya adalah orang Jawa yang tinggal di daerah pedesaan. Kalo kita dengar kata pedesaan itu pasti langsung nyambungnya jauh dari kota, sawah, jalanan rusak, dan mungkin pelosok. Thats wrong meskipun ada yang betul, tapi tidak semuanya seperti itu. Kalo pedesaan tempat kami tinggal itu adalah tempat yang sangat menyenangkan, nyaman, dan selalu menjadi tempat yang aku selalu rindukan. Lokasinya itu jauh dari keramaian kota dan polusi udara. Tempat tinggal kami dikelilingi oleh sawah-sawah yang terbentang luas nan hijau, yang membuat oksigen dan angin mondar-mandir sepuasnya ahai... aku tumbuh dan dibesarkan di lingkungan yang menurut aku baik dan sangat kekeluargaan. Enaknya tinggal di pedesaan adalah meskipun dengan tetangga yang tidak ada hubungan darah, kami tetap menganggap mereka adalah bagian dari keluarga. Sehingga kami bisa hidup guyup rukun. Gotong royong senantiasa terjaga. Jadi peribahasa berat sama dipikul ringan sama dijinjing itu sangat pas disematkan kepada warga di pedesaan. 

Selama lebih kurang 23 tahun aku tinggal di Jawa. Setelah aku menyelesaikan study S1 di salah satu Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Ponorogo, tepatnya di STAIN yang sekarang telah berubah menjadi IAIN Ponorogo selama 8 semester, aku melanjutkan kursus di UPTPK Madiun selama 2 bulan. Kemudian aku memutuskan untuk melakukan perjalanan secara fisik yaitu bertransmigrasi ke pulau Kalimantan. Tepatnya di Kota Tarakan provinsi Kalimantan Utara.

Oke untuk cerita awal dari perjalananku sampai di sini dulu ya... nanti akan aku sambung lagi dikesempatan yang lain insyallah. Nah, buat konco-konco yang punya cerita perjalanan hidup kalian monggo share di kolom komentar ya.. biar kita bisa saling berbagi. 

Terima kasih and see you next time 🙏

Pembuka

Assalamu'alaikum wr. wb.

Hallo konco-konco...

Selamat datang di blog aku yang sederhana dan nyantai. Di blog ini aku mau berbagi kepada konco-konco tentang pengalaman, cerita-cerita lucu, seru, menyenangkan, dan mungkin saja cerita haru biru hehehe. Mungkin nanti akan ada sohib-sohib aku yang bakal muncul di blog aku untuk mempermanis kisah yang aku bagikan kepada konco-konco. Kalo kopi aja perlu dikasih gula biar manis, apalagi kamu.... hehehe maksudku apalagi kisahku. 

Nah buat konco-konco yang mungkin nanti punya pengalaman dan cerita yang sama, monggo sharing-sharing di kolom komentar ya.....

Mari kita saling berbagi sesuatu yang bermanfaat dan saling menjalin silaturahim supaya makin raket/deket. 

Mungkin itu dulu pembukanya, untuk kisah-kisahnya insyaallah akan segera dirilis. 


Ow ya hampir lupa, yang bikin aku akhirnya mau buat blog adalah sahabat aku yang penuh inspirasi. Dia adalah orang yang membuat aku terpacu untuk mulai menyukai membaca buku, saling berbagi pengalaman, dan sampai akhirnya aku mau buat blog. Matur nuwun sanget buat Yastin yang sudah memberikan aku inspirasi dan motivasi 😘