Jumat, 22 Februari 2019

Satu untuk Berdua

Hallo konco-konco,

Pernah dengar istilah "sepiring berdua"?
Yaps, istilah itu sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pasti istilah itu terdengar romantis ya... tapi kalo untuk dikisahku ini bukanlah sesuatu yang romantis, lebih tepatnya agak miris hiks hiks..
Jadi begini kisahnya, ini berhubungan dengan makanan dan minuman yang pasti.

Kalian tahu telur yang diceplok? Atau istilahnya telur mata sapi? Iya... yang kayak gini


Jadi kisah si telur ceplok ini adalah dulu waktu jaman aku masih sekolah SD, setiap pagi sebelum sekolah ibu selalu membuatkan aku sarapan. Karena kami tinggal di pedesaan, menu sarapan pun tidak jauh dari nasi dan sambal. Nah, karena aku punya seorang kakak laki-laki yang jarak usia kami cuma terpaut 2,5 tahun, maka saat itu pun kami sama-sama duduk di bangku SD. Ketika kami sarapan ibu biasa membuatkan lauk telur ceplok. Itu pun jika bertepatan ayam yang kami pelihara telah bertelur. Jika tidak ya lauknya tempe goreng dan sambal. Nah disaat ibu membuatkan kami lauk telur ceplok, itu pasti cuma 1 biji saja yang di goreng dan pasti dibagi menjadi dua. Separo untuk kakak dan separo untukku 😣
Apalagi telurnya itu telur ayam kampung, kebayang dong kecilnya telur itu seberapa? Dan itu masih dibagi menjadi dua 😢
Tapi kami tidak pernah ngeluh, ngambek, apalagi sampe marah tidak mau makan hanya karena kami harus berbagi lauk. Karena bagi kami, bisa sarapan lauk telur itu adalah nikmat Tuhan yang sangat luar biasa. Karena tidak setiap hari kami bisa makan lauk itu. Dan yang terpenting kebutuhan protein kami tercukupi dan kami bisa belajar dengan baik di sekolah.. horeeee...

Selain telur ceplok, ada lagi satu menu yang harus kami bagi berdua. Yaitu... jeng jeng 
Yaps betul, ini adalah susu coklat. Siapa yang doyan sama susu coklat??? 
Dulu waktu aku masih SD suka banget minum susu coklat. Karena susu itu mengandung kalsium yang bagus untuk pertumbuhan tulang. Meskipun kami orang desa, tapi orang tua kami sangat memperhatikan tumbuh kembang putra-putrinya. Nah jadi si susu coklat ini nasibnya sama seperti si telur ceplok. Ia harus rela dibagi dua untuk kakak dan aku 😅 kasiaaan si susu coklat.

Mungkin kalian bertanya-tanya "kenapa sih semua harus dibagi dua?" "memangnya orang tua kalian pelit banget ya?"
Jawabannya bukan karena orang tua kami pelit. Tapi pada masa itu perekonomian orang tua kami masih belum stabil. Jadi kami harus berlatih hidup sederhana dan menerima apa yang ada. Tapi pada masa itu kakak dan aku belum terlalu mengerti masalah ekonomi. Yang kami tahu adalah kami harus sekolah, belajar dan terus belajar supaya nanti kami bisa menjadi orang yang berilmu dan bisa meraih keberhasilan di masa depan.

Aku bersyukur dilahirkan di lingkungan keluarga yang sederhana. Karena itu bisa membuatku lebih menghargai yang namanya perjuangan, kesederhanaan, dan indahnya berbagi. Sehingga di saat aku harus belajar mandiri, aku sudah siap.


Kesederhanaan bukanlah sebuah keturunan. Tapi kesederhanaan adalah sesuatu yang harus kita cari dan kita pupuk sendiri, supaya ia bisa tumbuh kokoh didalam diri kita.

Semangat buat konco-konco 💪😉

2 komentar:

  1. Sarapan sama krupuk n sambel sudah nuiqmat, yang penting nasinya anget yuk..aku sampe SMP sering begitu 😢😢😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul itu..
      Yang penting nasinya baru ngambil dari dandang 😂

      Hapus