Hallo konco-konco,
Setelah beberapa hari, akhirnya aku mulai berbagi kisah lagi kepada kalian yeeeeee.. Ditulisanku kali ini, aku akan melanjutkan kisah dari perjalanan hidupku. Di kisah awal yang sebelumnya aku bercerita tentang dari mana aku berasal dan mulai melangkahkan kakiku kemana. Nah di kisah awal bagian 2 ini aku akan berbagi tentang awal aku menjalani yang disebut dunia yang sebenarnya. Emang slama ini aku di dunia yang mana?? hehehe
Jadi di tahun 2016 aku memberanikan diri untuk melangkahkan kakiku keluar dari zona nyaman. Aku memutuskan untuk pergi merantau ke pulau Kalimantan tepatnya di kota Tarakan provinsi Kalimantan Utara.
Jadi di tahun 2016 aku memberanikan diri untuk melangkahkan kakiku keluar dari zona nyaman. Aku memutuskan untuk pergi merantau ke pulau Kalimantan tepatnya di kota Tarakan provinsi Kalimantan Utara.
Awalnya aku ragu-ragu untuk pergi ke sana. Karena aku belum pernah pergi jauh meninggalkan orang tua dan keluarga yang membutuhkan banyak waktu dan biaya tentunya. Tapi karena dorongan oleh orang tua yang menginginkan anaknya bisa berhasil (dalam memiliki profesi) dan karena aku juga ingin mendapatkan pengalaman baru di luar sana. Akhirnya aku memacu tekadku untuk berani pergi merantau demi tercapainya keinginan itu. Berbicara masalah merantau, banyak sekali quotes tentang merantau yang bisa menjadi penguat kita sebagai perantau. Salah satu quotes yang aku ambil adalah dari Imam Asy Syafi'i: "Merantaulah... Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negrimu dan hidup asing (di negri orang)".
Pertama kali aku sampai di tanah rantau, sangat terasa asing bagiku. Cuaca dan hawa-hawane bedo. Tidak sama dengan di kampung halaman. Saat itulah aku langsung merasa rindu rumah. Karena, begitu aku di tanah rantau aku tidak akan bisa langsung pulang dengan mudah. Dan aku tidak mungkin cuma sebentar saat di tanah rantau. Pasti butuh waktu lama bagiku untuk bisa bersua kembali dengan keluarga di kampung halaman huuuuu huuuuu (macam menangis di dalam hati).
Tetapi di saat aku rindu akan rumah, dan ingin pulang, aku selalu mengingat kembali tujuan awal aku pergi merantau. Dengan begitu, aku semakin kuat untuk menahan setiap rindu yang menderu, menahan tangis yang mengiris. Kuluapkan rindu dan tangis itu dalam barisan doa kepada-Nya agar kami selalu terjaga dan bisa berkumpul bersama kembali berbagi bahagia dan kesedihan, berbagi tawa dan tangis.
Begitulah kisah awal bagian 2 yang bagi kepada konco-konco. Insyaalah kisah awal bagian 3 akan segera dirilis. Terus semangat buat konco-konco yang mungkin saat ini sedang merantau demi menggapai kebaikan..
Thanks to Tarakan sebagai titik awal aku berdiri...
Pertama kali aku sampai di tanah rantau, sangat terasa asing bagiku. Cuaca dan hawa-hawane bedo. Tidak sama dengan di kampung halaman. Saat itulah aku langsung merasa rindu rumah. Karena, begitu aku di tanah rantau aku tidak akan bisa langsung pulang dengan mudah. Dan aku tidak mungkin cuma sebentar saat di tanah rantau. Pasti butuh waktu lama bagiku untuk bisa bersua kembali dengan keluarga di kampung halaman huuuuu huuuuu (macam menangis di dalam hati).
Tetapi di saat aku rindu akan rumah, dan ingin pulang, aku selalu mengingat kembali tujuan awal aku pergi merantau. Dengan begitu, aku semakin kuat untuk menahan setiap rindu yang menderu, menahan tangis yang mengiris. Kuluapkan rindu dan tangis itu dalam barisan doa kepada-Nya agar kami selalu terjaga dan bisa berkumpul bersama kembali berbagi bahagia dan kesedihan, berbagi tawa dan tangis.
Begitulah kisah awal bagian 2 yang bagi kepada konco-konco. Insyaalah kisah awal bagian 3 akan segera dirilis. Terus semangat buat konco-konco yang mungkin saat ini sedang merantau demi menggapai kebaikan..
Thanks to Tarakan sebagai titik awal aku berdiri...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar